Minggu, 21 Desember 2014

Asuhan Keperawatan Resiko Bunuh Diri



BAB 1
PENDAHULUAN


1.1  Latar belakang
Definisi sehat menurut kesehatan dunia (WHO) adalah suatu keadaan sejahtera yang meliputi fisik, mental dan sosial yang tidak hanya bebas daripenyakit atau kecacatan. Maka secara analogi kesehatan jiwa pun bukan hanyasekedar bebas dari gangguan tetapi lebih kepada perasan sehat, sejahtera danbahagia (well being), ada keserasian antara pikiran, perasaan, perilaku, dapatmerasakan kebahagiaan dalam sebagian besar kehidupannya serta mampumengatasi tantangan hidup sehari-hari. Penanganan pada klien dengan masalahkesehatan jiwa merupakan tantangan yang unik karena masalah kesehatan jiwamungkin tidak dapat dilihat secara langsung. Pada masalah kesehatan fisik yangmemperlihatkan berbagai macam gejala dan disebabkan berbagai hal kejadianmasa lalu yang sama dengan kejadian saat ini. Gejala yang berbeda mungkinbanyak muncul pada klien dengan masalah kesehatan jiwa tidak dapatmenceritakan masalahnya bahkan mungkin menceritakan hal yang berbeda dan kontradiksi. Kemampuan mereka untuk berperan dan menyelesaikan masalah jugabervariasi (Keliat, 2005).

Suatu contoh adalah bunuh diri.Bunuh diri (suicide) merupakan salah satu bentuk kegawat daruratan psikiatri. Meskipun bunuh diri adalah perilaku yang membutuhkan pengkajian yang komprehensif pada depresi, penyalahgunaan NAPZA, skizofrenia, gangguan kepribadian(paranoid, borderline, antisocial), suicide tidak bisa disamakan dengan penyakit mental. Ada 4 hal yang krusial yang perlu diperhatikan oleh perawat selaku tim kesehatan diantaranya adalah : pertama, suicide merupakan perilaku yang bisa mematikan dalam seting rawat inap di rumah sakit jiwa,
Kedua, faktor – faktor yang berhubungan dengan staf antara lain : kurang adekuatnya pengkajian pasien yang dilakukan oleh perawat, komunikasi staf yang lemah, kurangnya orientasi dan training dan tidak adekuatnya informasi tentang pasien. Ketiga, pengkajian suicide seharusnya dilakukan secara kontinyu selama di rawat di rumah sakit baik saat masuk, pulang maupun setiap perubahan pengobatan atau treatmen lainnya. Keempat, hubungan saling percaya antara perawat dan pasien serta kesadaran diri perawat terhadap cues perilaku pasien yang mendukung terjadinya resiko bunuh diri adalah hal yang penting dalam menurunkan angka suicide di rumah sakit. Oleh karena itu suicide pada pasien rawat inap merupakan masalah yang perlu penanganan yang cepat dan akurat. Pada makalah ini akan dipaparkan mengenai faktor resiko terjadinya bunuh diri, instrument pengkajian dan managemen keperawatannya dengan pendekatan proses keperawatanya.

1.2  Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas yaitu :
1.2.1  Bagaimana asuhan keperawatan pada resiko bunuh diri ?

1.3  Tujuan
1.3.1        Tujuan umum
Adapun tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah untuk mendapatkan gambaran secara umum tentang perilaku bunuh diri (suicide)
1.3.2        Tujuan khusus
1.3.2.1  Untuk mengetahui perilaku percobaan bunuh diri pada seseorang
1.3.2.2  Untuk mengetahui askep perilaku percobaan bunuh diri
1.3.2.3  Untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Neuro Behavior



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Pengertian
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terkahir dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Keliat 1991 : 4).
Menurut Maris, Berman, Silverman, dan Bongar (2000), bunuh diri memiliki 4 pengertian, antara lain:
1.      Bunuh diri adalah membunuh diri sendiri secara intensional
2.      Bunuh diri dilakukan dengan intense
3.      Bunuh diri dilakukan oleh diri sendiri kepada diri sendiri
4.      Bunuh diri bisa terjadi secara tidak langsung (aktif) atau tidak langsung (pasif), misalnya dengan tidak meminum obat yang menentukan kelangsungan hidup atau secara sengaja berada di rel kereta api.
Berdasarkan beberapa pengertian percobaan bunuh diri di atas, dapat dikatakan bahwa bunuh diri secara umum adalah perilaku membunuh diri sendiri dengan intensi mati sebagai penyelesaian atas suatu masalah.

2.2 Rentang respon

Adaptif                                                                                   Maladaptif
 


 

Harapan        Yakin     Inspirasi      kegagalan    Tidak berdaya    kehilangan,     Sedih,
                                               Ekspektasi   dan putus asa,        gagal          depresi
                                                                       Apatis
                                                                                                     
                                                                                                              Bunuh diri
Rentang adaptif-mal adaptif : Harapan, Yakin, Percaya, Inspirasi, kegagalan ekspektasi, Putus harapan, Tidak    berdaya, Putus asa, Apatis, Gagal dan kehilangan, Ragu-ragu, Sedih, Depresi Bunuh diri.
Pada umumnya tindakan bunuh diri (suicide) merupakan cara ekspresi orang yang penuh stress. Perilaku bunuh diri berkembang dalam rentang diantaranya :
a)      Suicidal ideation, Pada tahap ini merupakan proses contemplasi dari suicide, atau sebuah metoda yang digunakan tanpa melakukan aksi/ tindakan, bahkan klien pada tahap ini tidak akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan. Walaupun demikian, perawat perlu menyadari bahwa pasien pada tahap ini memiliki pikiran tentang keinginan untuk mati
b)      Suicidal intent, Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan perencanaan yang konkrit untuk melakukan bunuh diri,
c)      Suicidal threat, Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat yan dalam , bahkan ancaman untuk mengakhiri hidupnya .
d)      Suicidal gesture, Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang diarahkan pada diri sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya tetapi sudah pada percobaan untuk melakukan bunuh diri. Tindakan yang dilakukan pada fase ini pada umumnya tidak mematikan, misalnya meminum beberapa pil atau menyayat pembuluh darah pada lengannya. Hal ini terjadi karena individu memahami ambivalen antara mati dan hidup dan tidak berencana untuk mati. Individu ini masih memiliki kemauan untuk hidup, ingin di selamatkan, dan individu ini sedang mengalami konflik mental. Tahap ini sering di namakan “Crying for help” sebab individu ini sedang berjuang dengan stress yang tidak mampu di selesaikan.
e)      Suicidal attempt, Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi individu ingin mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang mematikan .walaupun demikian banyak individu masih mengalami ambivalen akan kehidupannya.
f)        Suicide. Tindakan yang bermaksud membunuh diri sendiri .hal ini telah didahului oleh beberapa percobaan bunuh diri sebelumnya. 30% orang yang berhasil melakukan bunuh diri adalah orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya. Suicide ini yakini merupakan hasil dari individu yang tidak punya pilihan untuk mengatasi kesedihan yang mendalam.

2.3 Faktor predisposisi dan faktor presipitasi
2.3.1 Faktor predisposisi
a)      Faktor genetic dan teori biologi
Factor genetic mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri pada keturunannya.Disamping itu adanya penurunan serotonin dapat menyebabkan depresi yang berkontribusi terjadinya resiko buuh diri.
b)      Teori sosiologi
Emile Durkheim membagi suicide dalam 3 kategori yaitu : Egoistik (orang yang tidak terintegrasi pada kelompok social) , atruistik (Melakukan suicide untuk kebaikan masyarakat) dan anomic ( suicide karena kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain dan beradaptasi dengan stressor).
c)      Teori psikologi
Sigmund Freud dan Karl Menninger meyakini bahwa bunuh diri merupakan hasil dari marah yang diarahkan pada diri sendiri.
d)      Faktor biokimia :Data menunjukkan bahwa secara serotogenik, apatengik, dan depominersik menjadi media  proses yang dapat menimbulkan prilaku destrukif diri.

2.3.2 Faktor presipitasi
a)      Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal atau gagal melakukan hubungan yang berarti
b)      Kegagalan beradaptasi sehingga dapat mengalami stress
c)      Perasaan marah atau bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri
d)      Cara mengakhiri keputusan



2.4 Tanda dan gejala
Pengkajian orang yang bunuh diri juga mencakup apakah orang tersebut tidak membuat rencana yang spesifik dan apakah tersedia alat untuk melakukan rencana bunuh diri tersebut.Petunjuk dan gejala yaitu :
a.    Keputusasaan
b.   Celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal dan tidak berguna
c.    Alam perasaan depresi
d.   Agitasi dan gelisah
e.    Insomnia yang menetap
f.     Penurunan BB
g.    Berbicara lamban, keletihan, menarik diri dari lingkungan sosial.
h.    Petunjuk psikiatrik :
1)        Upaya bunuh diri sebelumnya
2)        Kelainan afektif
3)        Alkoholisme dan penyalahgunaan obat
4)        Kelaianan tindakan dan depresi mental pada remaja
5)        Dimensia dini/ status kekacauan mental pada lansia
6)        Riwayat psikososial :
a)        Baru berpisah, bercerai/ kehilangan
b)        Hidup sendiri
c)        Tidak bekerja, perbahan/ kehilangan pekerjaan baru dialami
d)       Faktor-faktor kepribadian :
1.         Implisit, agresif, rasa bermusuhan
2.         Kegiatan kognitif dan negative
3.         Keputusasaan
4.         Harga diri rendah
5.         Batasan/gangguan kepribadian antisosial

2.5 Psikopatologi
Semua prilaku bunuh diri adalah serius apapun tujuannya.Orang yang siap membunuh diri adalah orang yang merencanakan kematian dengan tindak kekerasan, mempunyai rencana spesifik dan mempunyai niat untuk melakukannya. Prilaku bunuh diri biasanya dibagi menjadi 3 kategori :
a.       Ancaman bunuh diri
Peningkatan verbal/nonverbal bahwa orang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri.Ancaman menunjukkan ambivalensi seseorang tentang kematian, kurangnya respon positif dapat ditafsirkan seseorang sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh diri.
b.      Upaya bunuh diri
Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh individu yang dapat mengarah pada kematian jika tidak dicegah.
c.       Bunuh diri
Mungkin terjadi setelah tanda peningkatan terlewatkan atau terabaikan.Orang yang melakukan percobaan bunuh diri dan yang tidak langsung ingin mati mungkin pada mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya.Percobaan bunuh diri terlebih dahulu individu tersebut mengalami depresi yang berat akibat suatu masalah yang menjatuhkan harga dirinya.
Harga diri rendah
 
Pathway
 

 


Perasaan marah dan bermusuhan
 
Kegagalan beradaptasi
 
    






















Terjadi isolasi sosial dan sedih

 

 


 


 
Bunuh diri
 
Perasaan gagal
 
         Apatis


 




2.6 Diagnosa
      2.6.1 Diagnosa keperawatan
a.    Risiko bunuh diri
2.6.2  Diagnosa medis
a.    Schizofrenia
b.   Psikosis

2.7 Penatalaksanaan
2.7.1 Penatalaksanaan keperawatan
a.       Bantu klien untuk menurunkan resiko perilaku destruktif yang diarahkan pada diri sendiri, dengan cara :
1)      Kaji tingkatan resiko yang di alami pasien : tinggi, sedang rendah.
2)      Kaji level Long-Term Risk yang meliputi : Lifestyle/ gaya hidup, dukungan social yang tersedia, rencana tindakan yang bisa mengancam kehidupannya, koping mekanisme yang biasa digunakan.
b.      Berikan lingkungan yang aman ( safety) berdasarkan tingkatan resiko , managemen untuk klien yang memiliki resiko tinggi
1)      Orang yang ingin suicide dalam kondisi akut seharusnya ditempatkan didekat ruang perawatan yang mudah di monitor oleh perawat.
2)      Mengidentifikasi dan mengamankan benda – benda yang dapat membahayakan klien misalnya : pisau, gunting, tas plastic, kabel listrik, sabuk, hanger dan barang berbahaya lainnya.
c.       Membantu meningkatkan harga diri klien
1)      Tidak menghakimi dan empati
2)      Mengidentifikasi aspek positif yang dimilikinya
3)      Mendorong berpikir positip dan berinteraksi dengan orang lain
4)      Berikan jadual aktivitas harian yang terencana untuk klien dengan control impuls yang rendah
5)       Melakukan terapi kelompok dan terapi kognitif dan perilaku bila diindikasikan.
d.      Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mendapatkan dukungan social
1)      Informasikan kepada keluarga dan saudara klien bahwa klien membutuhkan dukungan social yang adekuat
2)      Bersama pasien menulis daftar dukungan sosial yang di punyai termasuk jejaring sosial yang bisa di akses.
3)      Dorong klien untuk melakukan aktivitas social.
e.       Membantu klien mengembangkan mekanisme koping yang positip.
1)      Mendorong ekspresi marah dan bermusuhan secara asertif
2)      Lakukan pembatasan pada ruminations tentang percobaan bunuh diri.
3)      Bantu klien untuk mengetahui faktor predisposisi ‘ apa yang terjadi sebelum anda memiliki pikiran bunuh diri’
4)      Memfasilitasi uji stress kehidupan dan mekanisme koping
5)      Explorasi perilaku alternative
6)      Gunakan modifikasi perilaku yang sesuai
2.7.2 Penatalaksanaan medis
Pengobatan untuk mengatasi pikiran dan perilaku bunuh diritergantung dari kondidi masing-msing penderita, termasuk seberapaberat resiko bunuh diri dan apa penyebab yang mendasarinya. Jika seseorang memiliki pikiran untuk bunuh diri, tetapi dalam keadaan yang tidak gawsat, maka bisadilakukan pengobatan rawsat jalan yaitu berupa :
a)      Psikoterapi: masalah-masalah yang membuat seseorang ingin bunuh diri akan digali da dibuat rencana untuk mengatasinya bersama-sama
b)      Pengobatan : bisa diberikan untuk membantu mengurangi gejala-gejala yang ada dan mengurangi rasa ingin bunuh diri seperti antidepresan dan dilakukan terapi konvulsi jika diperlukan.
c)      Terapi adiksi : Terapi ini dilakukan untuk mengatasi ketergantungan pada obat-obat terlarang atau alcohol
d)      Edukasi dan dukungan keluarga : melibatkan keluarga dalam terapi bisa membantu keluarga untuk mengerti apa yang dialami dan dirasakan oleh pernderita, sehingga diharapkan hubungan dan komunikasi dalam keluarga bisa diperbaiki

2.8 Asuhan keperawatan
a.       Pengkajian
Tinjauan kembali riwayat klien untuk adanya stressor pencetus dan data signifikan tentang :
1)      Kerentaan genetik-biologik (riwayat keluarga).
2)      Peristiwa hidup yang menimbulkan stres dan kehilangan yang baru dialami.
3)      Hasil dan alat pengkajian yang terstandarisasi untuk depresi.
4)      Riwayat pengobatan.
5)      Riwayat pendidikan dan pekerjaan.
6)      Catat ciri-ciri respon psikologik, kognitif, emosional dan prilaku dari individu dengan gangguan mood.

7)      Kaji adanya faktor resiko bunuh diri dan letalitas prilaku bunuh diri :
a)      Tujuan klien misalnya agar terlepas dari stres, solusi masalah yang sulit.
b)      Rencana bunuh diri termasuk apakah klien memiliki rencana yang teratur dan cara-cara melaksanakan rencana tersebut.
c)      Keadaan jiwa klien (misalnya adanya gangguan pikiran, tingkat gelisah, keparahan gangguan mood).
d)      Sistem pendukung yang ada.
e)      Stressor saat ini yang mempengaruhi klien, termasuk penyakit lain (baik psikiatrik maupun medik), kehilangan yang baru dialami dan riwayat penyalahgunaan zat.
f)        Kaji sistem pendukung keluarga dan kaji pengetahuan dasar keluarga klien, atau keluarga tentang gejala, meditasi dan rekomendasi pengobatan gangguan mood, tanda-tanda kekambuhan dan tindakan perawatan diri.
b.      Diagnosa : Resiko bunuh diri
c.       Intervensi dan implementasi.
Rencana Tindakan Keperawatan untuk pasien resiko bunuh diri
Pasien:
1)                  Tujuan umum: Klien tidak mencederai diri.
2)   Tujuan khusus :
a)   Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:
                                          i.   Perkenalkan diri dengan klien 
                                        ii.   Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar dan tidak menyangkal.
                                       iii.   Bicara dengan tegas, jelas, dan jujur.
                                      iv.   Bersifat hangat dan bersahabat.
                                        v.   Temani klien saat keinginan mencederai diri meningkat.

b)   Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri
Tindakan:
                                          i.   Jauhkan klien dari benda‑benda yang dapat membahayakan (pisau, silet, gunting, tali, kaca, dan lain‑lain).
                                        ii.   Tempatkan klien di ruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh perawat.
                                       iii.   Awasi klien secara ketat setiap saat.

c)         Klien dapat mengekspresikan perasaannya
Tindakan:
                                                   i.      Dengarkan keluhan yang dirasakan.
                                                 ii.      Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan, ketakutan dan keputusasaan.
                                                iii.      Beri dorongan untuk mengungkapkan mengapa dan bagaimana harapannya.
                                               iv.      Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti  penderitaan, kematian,  dan lain‑lain.
                                                 v.      Beri dukungan pada tindakan atau ucapan klien yang menunjukkan keinginan untuk hidup.

d)         Klien dapat meningkatkan harga diri
Tindakan:
                                                   i.                                                                                                                                                                                     Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.
                                                 ii.                                                                                                                                                                                     Kaji dan kerahkan sumber‑sumber internal individu.
                                                iii.                                                                                                                                                                                    Bantu mengidentifikasi sumber‑sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan, hal‑hal untuk diselesaikan).

e)      Klien dapat menggunakan koping yang adaptif
Tindakan:
                                                      i.      Ajarkan untuk mengidentifikasi pengalaman‑pengalaman yang menyenangkan  setiap hari (misal : berjalan-jalan, membaca buku favorit, menulissurat dll.).
                                                    ii.      Bantu untuk mengenali hal‑hal yang ia cintai dan yang ia sayang, danpentingnya terhadap kehidupan orang lain, mengesampingkan tentang kegagalan dalam kesehatan.
                                                   iii.      Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain yang mempunyai suatu masalah dan atau penyakit yang sama dan telah mempunyai pengalaman positif dalam mengatasi masalah tersebut dengan koping yang efektif.

f)                     Klien dapat menggunakan dukungan sosial
Tindakan:
                                                      i.      Kaji dan manfaatkan sumber‑sumber ekstemal individu (orang‑orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok pendukung, agama yang dianut).
                                                    ii.      Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).
                                                   iii.      Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling  pemuka agama).

g)          Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
Tindakan:
                                                      i.      Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).
                                                    ii.      Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).
                                                   iii.      Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.
                                                  iv.      Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan bena

Keluarga
1)      Tujuan: Keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga yang mengancam atau mencoba bunuh diri.
                  Tindakan:
a)      Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi pasien serta jangan pernah meninggalkan pasien sendirian
b)      Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat menjauhi barang-barang berbahaya disekita pasien
c)      Mendiskusikan dengan keluarga untuk tidak sering melamun sendiri
d)      Menjelaskan kepada keluarga pentingnya passion minum obat secara teratur.
2)      Tujuan: pasien mampu merawat pasien dengan resiko bunuh diri
                  Tindakan:
a) Menanyakan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri
                                                i.      Menanyakan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri yang pernah muncul pada pasien
                                              ii.      Mendiskusikan tentang tanda dan gejala yang umumnya muncul pada pasien beresiko bunuh diri
b) Mengajarkan keluarga tentang cara melindungi pasien dari perilaku bunuh diri.
i.         Mengajarkan keluarga tentang cara yang dapat dilakukan keluarga bila pasien memperlihatkan tanda dan gejala bunuh diri.
ii.       Menjelaskan tentang cara-cara melindungi pasien, antara lain:
                                                                                                (i)      Memberikan  tempat yang aman. Menempatkan pasien ditempat yang mudah di awasi, jangan biarkan pasien mengunci diri dikamarnya atau jangan meninggalkan pasien sendirian dirumah
                                                                                              (ii)      Menjauhkan barang-barang yang bias digunakan untuk bunuh diri. Jauhkan pasien dari barang-barang yang bias digunakan untuk bunuh diri, seperti tali, bahan bakar minyak/bensin, api, pisau atau benda tajam lainnya, zat yang berbahaya seperti racun nyamuk atau racun serangga.
                                                                                             (iii)      Selalu mengadakan pengawasan dan meningkatkan pengawasan apa bila ada tanda dan gejala bunuh diri meningkat. Jangan pernah melonggarkan pengawasan, walaupun pasien tidak menunjukkan tanda dan gejala untuk bunuh diri.
iii. Menganjurkan keluarga untuk malaksanakan cara tersebut diatas.
c)  Mengajarkan keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan apa bila pasien melakukan percobaan bunuh diri, antara lain:
                                                            i.      Mencari bantuan pada tetangga sekitar atau pemuka masyarakat untuk menghentikan upaya bunuh diri tersebut
                                                          ii.      Segera membawa pasien kerumah sakit atau puskesmas untuk mendapatkan bantuan medis.
d) Mencari keluarga mencari rujukan fasilitas kesehatan yang tersedia bagi pasien
i.         Memberikan informasi tentang nomor telpon darurat tenaga kesehatan
ii.       Menganjurkan keluarga untuk mengantarkan pasien berobat/control secara teratur untuk mengatasi masalah bunuh dirinya
iii.      Menganjurkan keluarga uuntuk membantu pasien minum obat sesuai prinsip lima benar pemberian obat.

d.      Evaluasi
Hal yang perlu dievaluasia diantaranya adalah  Klien menggunakan koping yang adaptif,klien terlibat dalam aktivitas peningkatan diri,ancaman terhadap integritas fisik atau sistem dari klien telah berkurang dalam sifat, jumlah asal atau waktu,Prilaku klien menunjukan kepedualiannya terhadap kesehatan fisik, psikologi dan kesejahteraan sosial, sumber koping klien telah cukup dikaji dan dikerahkan.
















BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan dan Pada umumnya merupakan cara ekspresi orang yang penuh stress dan  berkembang dalam beberapa rentang. Banyak penyebab/alasan seseorang melakukan bunuh diri diantaranya kegagalan  beradaptasi,perasaan marah dan terisolasi, dan lainnya Bunuh diri biasanya didahului oleh isyarat bunuh diri,ancaman bunuh diri serta percobaan  bunuh diri. Pengkajian orang yang bunuh diri juga mencakup apakah orang tersebut tidak membuat rencana yang spesifik dan apakah tersedia alat untuk melakukan rencana bunuh diri tersebut.
3.2 Saran
      Terjadinya kasus bunuh diri di Indonesia cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.Sehingga fenomena bunuh diri ini dapat digolongkan sebagai bencana (disaster) kemanusiaan.Perlu adanya upaya untuk menggugah kesadaran masyarakat bahwa bunuh diri merupakan ancaman serius, yang memerlukan manajemen penanganan multisektoral. Penanganan bunuh diri tidak akan berhasil jika hanya tergantung kepada kaum profesional seperti dokter,perawat, psikolog , pekerja sosial. Masyarakat sekitar pelaku sebaiknya mengenali tanda-tanda usaha bunuh diri sehingga bisa terus melakukan pendampingan serta penanganan dengan baik.Pada konsep Disaster Management ini pemerintah melakukan berbagai langkah penanganan terpadu dengan melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan.Penanganan yang dilakukan dapat digolongkan ke dalam tiga tahapan waktu.Yaitu pada tahap sebelum terjadinya bencana, pada saat terjadinya bencana, dan setelah terjadi bencana.Dengan terpadunya manajemen penanganan ini diharapkan angka terjadinya bunuh diri dapat ditekan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar