BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Definisi sehat menurut
kesehatan dunia (WHO) adalah suatu keadaan sejahtera
yang meliputi fisik, mental dan sosial yang tidak hanya bebas daripenyakit atau
kecacatan. Maka secara analogi kesehatan jiwa pun bukan hanyasekedar bebas dari
gangguan tetapi lebih kepada perasan sehat, sejahtera danbahagia (well being),
ada keserasian antara pikiran, perasaan, perilaku, dapatmerasakan kebahagiaan
dalam sebagian besar kehidupannya serta mampumengatasi tantangan hidup
sehari-hari. Penanganan pada klien dengan masalahkesehatan jiwa merupakan
tantangan yang unik karena masalah kesehatan jiwamungkin tidak dapat dilihat
secara langsung. Pada masalah kesehatan fisik yangmemperlihatkan berbagai macam
gejala dan disebabkan berbagai hal kejadianmasa lalu yang sama dengan kejadian
saat ini. Gejala yang berbeda mungkinbanyak muncul pada klien dengan masalah
kesehatan jiwa tidak dapatmenceritakan masalahnya bahkan mungkin menceritakan
hal yang berbeda dan kontradiksi.
Kemampuan mereka untuk berperan dan menyelesaikan masalah jugabervariasi
(Keliat, 2005).
Suatu
contoh adalah bunuh diri.Bunuh diri (suicide) merupakan salah satu bentuk
kegawat daruratan psikiatri. Meskipun bunuh diri adalah perilaku yang
membutuhkan pengkajian yang komprehensif pada depresi, penyalahgunaan NAPZA,
skizofrenia, gangguan kepribadian(paranoid, borderline, antisocial), suicide
tidak bisa disamakan dengan penyakit mental. Ada 4 hal yang krusial yang perlu
diperhatikan oleh perawat selaku tim kesehatan diantaranya adalah : pertama, suicide
merupakan perilaku yang bisa mematikan dalam seting rawat inap di rumah sakit
jiwa,
Kedua, faktor – faktor yang berhubungan dengan staf antara lain : kurang
adekuatnya pengkajian pasien yang dilakukan oleh perawat, komunikasi staf yang
lemah, kurangnya orientasi dan training dan tidak adekuatnya informasi tentang
pasien. Ketiga, pengkajian suicide seharusnya dilakukan secara kontinyu
selama di rawat di rumah sakit baik saat masuk, pulang maupun setiap perubahan
pengobatan atau treatmen lainnya. Keempat, hubungan saling percaya antara
perawat dan pasien serta kesadaran diri perawat terhadap cues perilaku
pasien yang mendukung terjadinya resiko bunuh diri adalah hal yang penting
dalam menurunkan angka suicide di rumah sakit. Oleh karena itu suicide pada
pasien rawat inap merupakan masalah yang perlu penanganan yang cepat dan
akurat. Pada makalah ini akan dipaparkan mengenai faktor resiko terjadinya
bunuh diri, instrument pengkajian dan managemen keperawatannya dengan
pendekatan proses keperawatanya.
1.2 Rumusan masalah
Adapun
rumusan masalah yang akan dibahas yaitu :
1.2.1 Bagaimana
asuhan keperawatan pada resiko bunuh diri ?
1.3 Tujuan
1.3.1
Tujuan umum
Adapun tujuan umum dari penulisan makalah
ini adalah untuk mendapatkan gambaran secara umum tentang perilaku bunuh diri
(suicide)
1.3.2
Tujuan khusus
1.3.2.1
Untuk mengetahui perilaku percobaan bunuh diri
pada seseorang
1.3.2.2
Untuk mengetahui askep perilaku percobaan bunuh
diri
1.3.2.3
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Neuro Behavior
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Pengertian
Bunuh diri adalah tindakan
agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri
mungkin merupakan keputusan terkahir dari individu untuk memecahkan masalah
yang dihadapi (Keliat 1991 : 4).
Menurut
Maris, Berman, Silverman, dan Bongar (2000), bunuh diri memiliki 4 pengertian,
antara lain:
1. Bunuh
diri adalah membunuh diri sendiri secara intensional
2. Bunuh
diri dilakukan dengan intense
3. Bunuh
diri dilakukan oleh diri sendiri kepada diri sendiri
4. Bunuh
diri bisa terjadi secara tidak langsung (aktif) atau tidak langsung (pasif),
misalnya dengan tidak meminum obat yang menentukan kelangsungan hidup atau
secara sengaja berada di rel kereta api.
Berdasarkan
beberapa pengertian percobaan bunuh diri di atas, dapat dikatakan bahwa bunuh
diri secara umum adalah perilaku membunuh diri sendiri dengan intensi mati
sebagai penyelesaian atas suatu masalah.
2.2
Rentang respon
Adaptif Maladaptif
Harapan Yakin Inspirasi kegagalan Tidak berdaya kehilangan, Sedih,
Ekspektasi dan putus asa, gagal depresi
Bunuh diri
Rentang
adaptif-mal adaptif : Harapan, Yakin, Percaya, Inspirasi, kegagalan ekspektasi, Putus harapan,
Tidak berdaya, Putus asa, Apatis, Gagal dan kehilangan,
Ragu-ragu, Sedih, Depresi Bunuh diri.
Pada umumnya tindakan bunuh diri (suicide) merupakan
cara ekspresi orang yang penuh stress. Perilaku bunuh diri berkembang dalam
rentang diantaranya :
a)
Suicidal ideation, Pada
tahap ini merupakan proses contemplasi dari suicide, atau sebuah metoda yang
digunakan tanpa melakukan aksi/ tindakan, bahkan klien pada tahap ini tidak
akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan. Walaupun demikian, perawat
perlu menyadari bahwa pasien pada tahap ini memiliki pikiran tentang keinginan
untuk mati
b)
Suicidal intent, Pada
tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan perencanaan yang konkrit
untuk melakukan bunuh diri,
c)
Suicidal threat, Pada
tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat yan dalam , bahkan
ancaman untuk mengakhiri hidupnya .
d)
Suicidal gesture, Pada
tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang diarahkan pada diri
sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya tetapi sudah pada
percobaan untuk melakukan bunuh diri. Tindakan yang dilakukan pada fase ini
pada umumnya tidak mematikan, misalnya meminum beberapa pil atau menyayat
pembuluh darah pada lengannya. Hal ini terjadi karena individu memahami
ambivalen antara mati dan hidup dan tidak berencana untuk mati. Individu ini
masih memiliki kemauan untuk hidup, ingin di selamatkan, dan individu ini
sedang mengalami konflik mental. Tahap ini sering di namakan “Crying for help”
sebab individu ini sedang berjuang dengan stress yang tidak mampu di
selesaikan.
e)
Suicidal attempt, Pada
tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi individu ingin mati
dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang mematikan .walaupun
demikian banyak individu masih mengalami ambivalen akan kehidupannya.
f)
Suicide. Tindakan yang
bermaksud membunuh diri sendiri .hal ini telah didahului oleh beberapa
percobaan bunuh diri sebelumnya. 30% orang yang berhasil melakukan bunuh diri
adalah orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya. Suicide ini
yakini merupakan hasil dari individu yang tidak punya pilihan untuk mengatasi
kesedihan yang mendalam.
2.3
Faktor predisposisi dan faktor presipitasi
2.3.1 Faktor predisposisi
a)
Faktor genetic dan teori biologi
Factor
genetic mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri pada keturunannya.Disamping
itu adanya penurunan serotonin dapat menyebabkan depresi yang berkontribusi
terjadinya resiko buuh diri.
b)
Teori sosiologi
Emile
Durkheim membagi suicide dalam 3 kategori yaitu : Egoistik (orang yang tidak
terintegrasi pada kelompok social) , atruistik (Melakukan suicide untuk
kebaikan masyarakat) dan anomic ( suicide karena kesulitan dalam berhubungan
dengan orang lain dan beradaptasi dengan stressor).
c)
Teori psikologi
Sigmund
Freud dan Karl Menninger meyakini bahwa bunuh diri merupakan hasil dari marah
yang diarahkan pada diri sendiri.
d) Faktor
biokimia :Data menunjukkan bahwa secara serotogenik, apatengik, dan
depominersik menjadi media proses yang dapat menimbulkan prilaku
destrukif diri.
2.3.2 Faktor presipitasi
a)
Perasaan terisolasi dapat terjadi karena
kehilangan hubungan interpersonal atau gagal melakukan hubungan yang berarti
b)
Kegagalan beradaptasi sehingga dapat mengalami
stress
c)
Perasaan marah atau bermusuhan, bunuh diri dapat
merupakan hukuman pada diri sendiri
d)
Cara mengakhiri keputusan
2.4
Tanda dan gejala
Pengkajian
orang yang bunuh diri juga mencakup apakah orang tersebut tidak membuat rencana
yang spesifik dan apakah tersedia alat untuk melakukan rencana bunuh diri
tersebut.Petunjuk dan gejala yaitu :
a.
Keputusasaan
b.
Celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal dan
tidak berguna
c.
Alam perasaan depresi
d.
Agitasi dan gelisah
e.
Insomnia yang menetap
f.
Penurunan BB
g.
Berbicara lamban, keletihan, menarik diri dari
lingkungan sosial.
h.
Petunjuk psikiatrik :
1) Upaya
bunuh diri sebelumnya
2) Kelainan
afektif
3) Alkoholisme
dan penyalahgunaan obat
4) Kelaianan
tindakan dan depresi mental pada remaja
5) Dimensia
dini/ status kekacauan mental pada lansia
6) Riwayat
psikososial :
a) Baru
berpisah, bercerai/ kehilangan
b) Hidup
sendiri
c) Tidak
bekerja, perbahan/ kehilangan pekerjaan baru dialami
d) Faktor-faktor
kepribadian :
1.
Implisit,
agresif, rasa bermusuhan
2.
Kegiatan
kognitif dan negative
3.
Keputusasaan
4.
Harga
diri rendah
5.
Batasan/gangguan
kepribadian antisosial
2.5
Psikopatologi
Semua
prilaku bunuh diri adalah serius apapun tujuannya.Orang yang siap membunuh diri
adalah orang yang merencanakan kematian dengan tindak kekerasan, mempunyai
rencana spesifik dan mempunyai niat untuk melakukannya. Prilaku bunuh diri
biasanya dibagi menjadi 3 kategori :
a. Ancaman
bunuh diri
Peningkatan
verbal/nonverbal bahwa orang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri.Ancaman
menunjukkan ambivalensi seseorang tentang kematian, kurangnya respon positif
dapat ditafsirkan seseorang sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh
diri.
b. Upaya
bunuh diri
Semua
tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh individu yang dapat
mengarah pada kematian jika tidak dicegah.
c. Bunuh
diri
Mungkin
terjadi setelah tanda peningkatan terlewatkan atau terabaikan.Orang yang
melakukan percobaan bunuh diri dan yang tidak langsung ingin mati mungkin pada
mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya.Percobaan
bunuh diri terlebih dahulu individu tersebut mengalami depresi yang berat
akibat suatu masalah yang menjatuhkan harga dirinya.
|
|
|
|
|||||||||
|
|
2.6
Diagnosa
2.6.1 Diagnosa keperawatan
a. Risiko bunuh diri
2.6.2
Diagnosa medis
a. Schizofrenia
b. Psikosis
2.7 Penatalaksanaan
2.7.1 Penatalaksanaan
keperawatan
a.
Bantu klien untuk menurunkan resiko perilaku
destruktif yang diarahkan pada diri sendiri, dengan cara :
1)
Kaji tingkatan resiko yang di alami pasien :
tinggi, sedang rendah.
2)
Kaji level Long-Term Risk yang meliputi :
Lifestyle/ gaya hidup, dukungan social yang tersedia, rencana tindakan yang
bisa mengancam kehidupannya, koping mekanisme yang biasa digunakan.
b.
Berikan lingkungan yang aman ( safety)
berdasarkan tingkatan resiko , managemen untuk klien yang memiliki resiko
tinggi
1)
Orang yang ingin suicide dalam kondisi akut
seharusnya ditempatkan didekat ruang perawatan yang mudah di monitor oleh
perawat.
2)
Mengidentifikasi dan mengamankan benda – benda
yang dapat membahayakan klien misalnya : pisau, gunting, tas plastic, kabel
listrik, sabuk, hanger dan barang berbahaya lainnya.
c.
Membantu meningkatkan harga diri klien
1)
Tidak menghakimi dan empati
2)
Mengidentifikasi aspek positif yang dimilikinya
3)
Mendorong berpikir positip dan berinteraksi
dengan orang lain
4)
Berikan jadual aktivitas harian yang terencana
untuk klien dengan control impuls yang rendah
5)
Melakukan
terapi kelompok dan terapi kognitif dan perilaku bila diindikasikan.
d.
Bantu klien untuk mengidentifikasi dan
mendapatkan dukungan social
1)
Informasikan kepada keluarga dan saudara klien
bahwa klien membutuhkan dukungan social yang adekuat
2)
Bersama pasien menulis daftar dukungan sosial
yang di punyai termasuk jejaring sosial yang bisa di akses.
3)
Dorong klien untuk melakukan aktivitas social.
e.
Membantu klien mengembangkan mekanisme koping
yang positip.
1)
Mendorong ekspresi marah dan bermusuhan secara
asertif
2)
Lakukan pembatasan pada ruminations tentang
percobaan bunuh diri.
3)
Bantu klien untuk mengetahui faktor predisposisi
‘ apa yang terjadi sebelum anda memiliki pikiran bunuh diri’
4)
Memfasilitasi uji stress kehidupan dan mekanisme
koping
5)
Explorasi perilaku alternative
6)
Gunakan modifikasi perilaku yang sesuai
2.7.2 Penatalaksanaan medis
Pengobatan
untuk mengatasi pikiran dan perilaku bunuh diritergantung dari kondidi
masing-msing penderita, termasuk seberapaberat resiko bunuh diri dan apa
penyebab yang mendasarinya. Jika seseorang memiliki pikiran untuk bunuh diri,
tetapi dalam keadaan yang tidak gawsat, maka bisadilakukan pengobatan rawsat
jalan yaitu berupa :
a)
Psikoterapi: masalah-masalah yang membuat
seseorang ingin bunuh diri akan digali da dibuat rencana untuk mengatasinya
bersama-sama
b)
Pengobatan : bisa diberikan untuk membantu
mengurangi gejala-gejala yang ada dan mengurangi rasa ingin bunuh diri seperti
antidepresan dan dilakukan terapi konvulsi jika diperlukan.
c)
Terapi adiksi : Terapi ini dilakukan untuk
mengatasi ketergantungan pada obat-obat terlarang atau alcohol
d)
Edukasi dan dukungan keluarga : melibatkan keluarga
dalam terapi bisa membantu keluarga untuk mengerti apa yang dialami dan
dirasakan oleh pernderita, sehingga diharapkan hubungan dan komunikasi dalam
keluarga bisa diperbaiki
2.8 Asuhan keperawatan
a.
Pengkajian
Tinjauan kembali riwayat klien untuk adanya stressor
pencetus dan data signifikan tentang :
1)
Kerentaan genetik-biologik (riwayat keluarga).
2)
Peristiwa hidup yang menimbulkan stres dan
kehilangan yang baru dialami.
3)
Hasil dan alat pengkajian yang terstandarisasi
untuk depresi.
4)
Riwayat pengobatan.
5)
Riwayat pendidikan dan pekerjaan.
6)
Catat ciri-ciri respon psikologik, kognitif,
emosional dan prilaku dari individu dengan gangguan mood.
7)
Kaji adanya faktor resiko bunuh diri dan
letalitas prilaku bunuh diri :
a)
Tujuan klien misalnya agar terlepas dari stres,
solusi masalah yang sulit.
b)
Rencana bunuh diri termasuk apakah klien
memiliki rencana yang teratur dan cara-cara melaksanakan rencana tersebut.
c)
Keadaan jiwa klien (misalnya adanya gangguan
pikiran, tingkat gelisah, keparahan gangguan mood).
d)
Sistem pendukung yang ada.
e)
Stressor saat ini yang mempengaruhi klien,
termasuk penyakit lain (baik psikiatrik maupun medik), kehilangan yang baru
dialami dan riwayat penyalahgunaan zat.
f)
Kaji sistem pendukung keluarga dan kaji
pengetahuan dasar keluarga klien, atau keluarga tentang gejala, meditasi dan
rekomendasi pengobatan gangguan mood, tanda-tanda kekambuhan dan tindakan
perawatan diri.
b.
Diagnosa : Resiko bunuh diri
c.
Intervensi dan implementasi.
Rencana
Tindakan Keperawatan untuk pasien resiko bunuh diri
Pasien:
1)
Tujuan
umum: Klien tidak mencederai diri.
2)
Tujuan
khusus
:
a)
Klien
dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:
i. Perkenalkan
diri dengan klien
ii. Tanggapi
pembicaraan klien dengan sabar dan tidak menyangkal.
iii. Bicara
dengan tegas, jelas, dan jujur.
iv. Bersifat
hangat dan bersahabat.
v. Temani
klien saat keinginan mencederai diri meningkat.
b)
Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri
Tindakan:
i. Jauhkan
klien dari benda‑benda yang dapat membahayakan (pisau, silet, gunting, tali,
kaca, dan lain‑lain).
ii. Tempatkan
klien di ruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh perawat.
iii. Awasi
klien secara ketat setiap saat.
c)
Klien dapat mengekspresikan perasaannya
Tindakan:
i.
Dengarkan keluhan yang dirasakan.
ii.
Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan
keraguan, ketakutan dan keputusasaan.
iii.
Beri dorongan untuk mengungkapkan mengapa dan
bagaimana harapannya.
iv.
Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan
arti penderitaan, kematian, dan lain‑lain.
v.
Beri dukungan pada tindakan atau ucapan klien
yang menunjukkan keinginan untuk hidup.
d)
Klien dapat meningkatkan harga diri
Tindakan:
i.
Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi
keputusasaannya.
ii.
Kaji dan kerahkan sumber‑sumber internal
individu.
iii.
Bantu mengidentifikasi sumber‑sumber harapan
(misal: hubungan antar sesama, keyakinan, hal‑hal untuk diselesaikan).
e)
Klien dapat menggunakan koping yang adaptif
Tindakan:
i.
Ajarkan untuk mengidentifikasi pengalaman‑pengalaman
yang menyenangkan setiap hari (misal :
berjalan-jalan, membaca buku favorit, menulissurat
dll.).
ii.
Bantu untuk mengenali hal‑hal yang ia cintai dan
yang ia sayang, danpentingnya terhadap kehidupan orang lain, mengesampingkan
tentang kegagalan dalam kesehatan.
iii.
Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada
orang lain yang mempunyai suatu masalah dan atau penyakit yang sama dan telah
mempunyai pengalaman positif dalam mengatasi masalah tersebut dengan koping
yang efektif.
f)
Klien dapat menggunakan dukungan sosial
Tindakan:
i.
Kaji dan manfaatkan sumber‑sumber ekstemal
individu (orang‑orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok pendukung,
agama yang dianut).
ii.
Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai,
pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).
iii.
Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal :
konseling pemuka agama).
g)
Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan
tepat
Tindakan:
i.
Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi,
efek dan efek samping minum obat).
ii.
Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar
(benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).
iii.
Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang
dirasakan.
iv.
Beri reinforcement positif bila menggunakan obat
dengan bena
Keluarga
1)
Tujuan: Keluarga berperan serta melindungi
anggota keluarga yang mengancam atau mencoba bunuh diri.
Tindakan:
a)
Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi
pasien serta jangan pernah meninggalkan pasien sendirian
b)
Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat
menjauhi barang-barang berbahaya disekita pasien
c)
Mendiskusikan dengan keluarga untuk tidak sering
melamun sendiri
d)
Menjelaskan kepada keluarga pentingnya passion
minum obat secara teratur.
2)
Tujuan: pasien mampu merawat pasien dengan
resiko bunuh diri
Tindakan:
a) Menanyakan keluarga tentang tanda dan
gejala bunuh diri
i.
Menanyakan keluarga tentang tanda dan gejala
bunuh diri yang pernah muncul pada pasien
ii.
Mendiskusikan tentang tanda dan gejala yang
umumnya muncul pada pasien beresiko bunuh diri
b) Mengajarkan keluarga tentang cara
melindungi pasien dari perilaku bunuh diri.
i.
Mengajarkan keluarga tentang cara yang dapat
dilakukan keluarga bila pasien memperlihatkan tanda dan gejala bunuh diri.
ii.
Menjelaskan tentang cara-cara melindungi pasien,
antara lain:
(i)
Memberikan
tempat yang aman. Menempatkan pasien ditempat yang mudah di awasi,
jangan biarkan pasien mengunci diri dikamarnya atau jangan meninggalkan pasien
sendirian dirumah
(ii)
Menjauhkan barang-barang yang bias digunakan
untuk bunuh diri. Jauhkan pasien dari barang-barang yang bias digunakan untuk
bunuh diri, seperti tali, bahan bakar minyak/bensin, api, pisau atau benda
tajam lainnya, zat yang berbahaya seperti racun nyamuk atau racun serangga.
(iii)
Selalu mengadakan pengawasan dan meningkatkan
pengawasan apa bila ada tanda dan gejala bunuh diri meningkat. Jangan pernah
melonggarkan pengawasan, walaupun pasien tidak menunjukkan tanda dan gejala
untuk bunuh diri.
iii. Menganjurkan keluarga untuk
malaksanakan cara tersebut diatas.
c) Mengajarkan
keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan apa bila pasien melakukan
percobaan bunuh diri, antara lain:
i.
Mencari bantuan pada tetangga sekitar atau
pemuka masyarakat untuk menghentikan upaya bunuh diri tersebut
ii.
Segera membawa pasien kerumah sakit atau
puskesmas untuk mendapatkan bantuan medis.
d) Mencari keluarga mencari rujukan
fasilitas kesehatan yang tersedia bagi pasien
i.
Memberikan informasi tentang nomor telpon
darurat tenaga kesehatan
ii.
Menganjurkan keluarga untuk mengantarkan pasien
berobat/control secara teratur untuk mengatasi masalah bunuh dirinya
iii.
Menganjurkan keluarga uuntuk membantu pasien
minum obat sesuai prinsip lima benar pemberian obat.
d.
Evaluasi
Hal yang
perlu dievaluasia diantaranya adalah Klien menggunakan koping yang
adaptif,klien terlibat dalam aktivitas peningkatan diri,ancaman terhadap integritas fisik atau sistem dari klien telah
berkurang dalam sifat, jumlah asal atau waktu,Prilaku klien menunjukan
kepedualiannya terhadap kesehatan fisik, psikologi dan kesejahteraan sosial, sumber
koping klien telah cukup dikaji dan dikerahkan.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Bunuh diri
adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri
kehidupan dan Pada umumnya merupakan cara ekspresi orang yang penuh stress dan
berkembang dalam beberapa rentang. Banyak penyebab/alasan seseorang
melakukan bunuh diri diantaranya kegagalan beradaptasi,perasaan marah dan
terisolasi, dan lainnya Bunuh diri biasanya didahului oleh isyarat bunuh
diri,ancaman bunuh diri serta percobaan bunuh diri. Pengkajian orang yang bunuh
diri juga mencakup apakah orang tersebut tidak membuat rencana yang spesifik dan
apakah tersedia alat untuk melakukan rencana bunuh diri tersebut.
3.2 Saran
Terjadinya kasus bunuh diri di
Indonesia cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.Sehingga fenomena
bunuh diri ini dapat digolongkan sebagai bencana (disaster) kemanusiaan.Perlu
adanya upaya untuk menggugah kesadaran masyarakat bahwa bunuh diri merupakan
ancaman serius, yang memerlukan manajemen penanganan multisektoral. Penanganan bunuh diri tidak
akan berhasil jika hanya tergantung kepada kaum profesional seperti dokter,perawat, psikolog ,
pekerja sosial. Masyarakat sekitar pelaku sebaiknya mengenali tanda-tanda usaha
bunuh diri
sehingga bisa terus melakukan pendampingan serta penanganan dengan baik.Pada
konsep Disaster Management ini pemerintah melakukan berbagai langkah penanganan
terpadu dengan melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan.Penanganan yang
dilakukan dapat digolongkan ke dalam tiga tahapan waktu.Yaitu pada tahap
sebelum terjadinya bencana, pada saat terjadinya bencana, dan setelah terjadi
bencana.Dengan terpadunya manajemen penanganan ini diharapkan angka terjadinya
bunuh diri dapat ditekan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar